Tahun ajaran baru,
gerbang jenjang pendidikan menunggu,
berduyun yang berharap meraup ilmu...
Orang tua melanggam langkah,
para anak maju melanjut sekolah,
ber-asa-kan "ilmu" yang merajut hidup indah...
Negara ini tak miskin cerdik pandai,
pun tak kurang yang pintar berlalai:
adakah error sungguh tertuai?
Dalam Mukaddimah UUD '45,
negara ini gariskan tegas sebuah cita:
"mencerdaskan kehidupan bangsa".
Tapi, lama sudah (berlagak) bodoh meraja,
apakah memang cerdas tak tepat juga?
Ataukah pada pengakuan kita terlupa:
bahwa "atas berkat rahmat Allah" kita merdeka?
Cerdaskah jika aniaya atas harta sesama?
Cerdaskah jika aurat bangga dibuka?
Cerdaskah jika liar nafsu meng-atasnama-kan cinta?
Cerdaskah jika baku-syahwat jadi ekskul paling disuka?
Cerdaskah jika pend. agama hanya 2 jam seminggunya?
Cerdaskah jika menyumpal kewajiban dgn hak semata?
Cerdaskah jika pendidikan bukan 'tuk meng-ibadah-iNya?
Saatnya merapat pada komitmen semula,
saatnya merealisir relijiusitas kita,
saatnya memahat cerdas berpahala...
Cerdas menurut Rasul-Nya:
"cerdas menahan nafsu menghawa,
cerdas menghitung salah diri dan alpa,
cerdas bersiap bekal untuk alam baka".
Sudahkah "cerdas" ini menjadi utama,
sebagai pertimbangan nurani kita,
untuk didikan generasi bangsa?
untuk "ilmu" yang bertabur di mana-mana?
untuk kurikulum yang gonta-ganti tak berirama?
Selasa, 07 Juli 2009
Rabu, 24 Juni 2009
HARGA MANUSIA
Alkisah bertutur,
tentang Sang Sufi sulit tersadur,
yang tak lelah tafakkur,
yang tak letih dzikir terlumur,
yang tak sudah khusyû'nya hudhûr...
Suatu hari Sang Sufi melangkah,
berpahatkan kasih dan dan raut cerah,
menebar sapa santun dan ramah,
saat seorang pejabat pongah,
berjalan angkuh berlawan arah.
Sang sufi yang tak jengah,
berlandas cinta tanpa merendah,
ingatkan si tuan tanah:
“jangan congkak di bumi Allah!”
Sang petinggi mendadak gerah,
wajahnya mengeras kaku dan merah,
gusar jelas meraut di wajah.
Ia pun menghardik marah:
“Hey, kamu orang rendah,
dengan siapa berhadapan, kamu sadarkah?”
Sang Sufi senyum mengurai jawaban:
“Kau (dan kita) sungguh jelas, Kawan,
(sesuai 'âdah yang terjalankan):
Awal: sperma menjijikkan,
akhir: bangkai busuk tak terelakkan,
dan di antaranya: kelayapan,
membawa busuk jijik kotoran!”
[Setiap kita,
yang cantik-tampan menawan mata,
ataukah yang merasa buruk rupa;
yang kaya berlumur harta,
ataukah faqir, miskin dan papa;
yang berpangkat mahkota,
ataukah jelata tak kenal tahta:
Berawal dan berakhir sama,
dengan isi perut serupa!
Lalu apa harga nilai kita,
Selain IMAN hakiki di dada,
Dan ISLAM yang nyata menggelora?]
tentang Sang Sufi sulit tersadur,
yang tak lelah tafakkur,
yang tak letih dzikir terlumur,
yang tak sudah khusyû'nya hudhûr...
Suatu hari Sang Sufi melangkah,
berpahatkan kasih dan dan raut cerah,
menebar sapa santun dan ramah,
saat seorang pejabat pongah,
berjalan angkuh berlawan arah.
Sang sufi yang tak jengah,
berlandas cinta tanpa merendah,
ingatkan si tuan tanah:
“jangan congkak di bumi Allah!”
Sang petinggi mendadak gerah,
wajahnya mengeras kaku dan merah,
gusar jelas meraut di wajah.
Ia pun menghardik marah:
“Hey, kamu orang rendah,
dengan siapa berhadapan, kamu sadarkah?”
Sang Sufi senyum mengurai jawaban:
“Kau (dan kita) sungguh jelas, Kawan,
(sesuai 'âdah yang terjalankan):
Awal: sperma menjijikkan,
akhir: bangkai busuk tak terelakkan,
dan di antaranya: kelayapan,
membawa busuk jijik kotoran!”
[Setiap kita,
yang cantik-tampan menawan mata,
ataukah yang merasa buruk rupa;
yang kaya berlumur harta,
ataukah faqir, miskin dan papa;
yang berpangkat mahkota,
ataukah jelata tak kenal tahta:
Berawal dan berakhir sama,
dengan isi perut serupa!
Lalu apa harga nilai kita,
Selain IMAN hakiki di dada,
Dan ISLAM yang nyata menggelora?]
Rabu, 17 Juni 2009
Sang TUJUH...
Di mahsyar kelak yaum al-qiyâmah:
Saat panas jejakkan gerah,
tujuh kelompok ternaungi tak resah,
kala tak ada naungan singgah,
selain Naungan Allah...
(sesuai tutur sabda Sayyid al-Ummah,
riwayat Imâmayn Bukhâri-Muslim Shâhibayil Fadhilah)
Sang tujuh meraut cerah,
sang tujuh menadah anugerah,
sang tujuh menuai barokah,
sang tujuh berselimut hikmah,
dari Sang Maha Pemberi Rahmah...
Pertama:
Pemimpin adil bijaksana,
menabur bijak pada proporsinya;
untuk mashlahat ia menata,
untuk umat ia membuka mata.
Kedua:
Remaja berkembang mewangi muda,
pahatkan ibadah dalam tiap jejak tertera.
Sungguh ia tak lena,
dengan bius racun selaksa,
dalam untai kata mempesona:
"Mumpung masih muda, liarkan rasa!"
Ketiga:
Ia yang hatinya khusyuk terlena,
ia yang hatinya rindu menyala,
pada masjid sungguh tak lupa;
pada sholat konstan menyapa.
Keempat:
Sepasang insan berkasih lekat,
karena Allah cinta terpahat;
(tersebab Allah) mereka merapat jabat,
(atas Cinta-Nya pula) mereka melepas dekat.
Ini jelas bukan 'cinta' si kamuflase maksiyat,
ini jelas bukan 'cinta' yang menuai laknat!
Kelima:
Ia yang kokoh murnikan jiwa,
ia yang gagah menantang mara,
lalu lantang menolak birahi menggoda,
dari yang wajar di hasrati syahwat menggelora,
dengan kalimat ringkas memadat makna:
"aku hanya takut pada Allah semata!"
Keenam:
Ia yang suka bersedekah bersama kelam;
nikmat ia rasa saat berbagi ni'am,
namun bersungguh ia hindari tenggelam,
dalam riyâ'; pujian dan penglihatan anak cucu Adam.
Ketujuh:
Ia yang dalam hening, dzikirnya bergemuruh,
ia yang dalam senyap, qolbunya tersentuh,
ia yang dalam sepi, taubatnya utuh,
sampai butiran air matanya pun, luruh...
Langganan:
Postingan (Atom)
